Kisah di Balik Lagu "My Story Erhu"
Di tengah kesunyian malam yang diselimuti kabut, seorang pria duduk sendiri di tepi jembatan batu tua, menggenggam erat Erhu kesayangannya. Suara gesekan dawainya merintih lirih, menyuarakan luka hati yang tak terkatakan. Hidupnya telah lama dihantui oleh kesepian, ditinggalkan oleh cinta dan harapan yang dulu pernah menyinari jalannya. Setiap nada yang ia mainkan bukan sekadar melodi, melainkan jeritan batin yang menolak untuk tenggelam dalam keheningan. Namun, di antara kesedihannya, musik yang ia hasilkan justru menjadi saksi bahwa perasaannya masih hidup—terjebak di antara keinginan untuk menyerah dan harapan yang enggan padam.
"My Story Erhu" adalah perjalanan emosional seorang pria yang berdialog dengan takdir melalui petikan senarnya. Dalam kelamnya malam, ia menemukan bahwa meski dunia seolah tak mendengarnya, Erhu tetap setia berbicara atas namanya. Musiknya menjadi jembatan antara dirinya dan dunia yang perlahan mulai ia lepaskan, namun juga menjadi pengingat bahwa ia masih ada. Di akhir lagu, dentingan terakhir yang menggema seolah menjadi titik antara keputusasaan dan kebangkitan—sebuah akhir yang menggantung, membiarkan pendengar menentukan nasibnya sendiri.